Rabu, 29 Juni 2016

Didi dan semester alamnya

Inilah suasana diskusi kami bertiga malam ini, antara saya, Nero dan Didi... siapa Didi? Didi salah seorang backpacker asal bandung, kebetulan ia berkuliah disana, namun asal yang sebenarnya Bukit tinggi, kota asal pemuda tanggung yang baru saya kenal sehari.

Sudah lebih dari 5 bulan didi melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dari cerita serta deretan foto yang saya liat pemuda dengan jargon "semester alam" ini sudah menginjak Sabang sampai merauke, katanya di Merauke mahal, makan sekali saja 30 ribu.. sebenarnya tidak mahal bila di bandingkan dengan harga makanan cafe di Waingapu, tapi saya sangat paham bagi seorang Backpacker harga segitu cukup lumayan mahal, apalagi untuk kantong mahasiswa.

Setelah sempat bercerita banyak tentang Sumba, dan beberapa hal yang jauh dari kata politik atau hiruk pikuk negara, didi menyerahkan selembar kertas, katanya bukan kuisioner tetapi sebuah catatan tentang harapan untuk Indonesia, cukup lama saya berpikir ( sekitar 5 menit) katanya boleh tulis puisi, karena alasanya catatan harapan itu akan dibukukan, tapi saya lebih menulis sepotong kalimat " lebih banyak orang gila!"

Nb : menurut saya kenapa butuh orang gila, karena  Indonesia sudah banyak orang waras dan pintar, tetapi... (titik titiknya kalian isi sendiri saja)

Semoga menemukan bahagia Moonstar

Hari ini saya akhirnya ketemu dengan salah satu penulia dari Sumba yaitu Romo Christo Ngasi, selama ini perkenalan kami cuma lewat dunia maya semata. Sekedar informasi Romo Christo sudah memiliki dua buku yaitu Ndaina dan Mataliku, kedua bukunya yaitu buku fiksi.

Dalam pertemuan pertama yang ditemani Ka Marta, Ka Wenda dan Diana Timoria di Sekretariat Sopan (Solidaritas Perempuan dan Anak) yang berada di kantor Koppesda. Kami berlima berbagi cerita tentang banyak hal, tidak cuma sebatas isu-isu tentang kesusastraan saja, namun juga isu-isu Sosbud yang lalu lalang di tengah masyarakat seperti isu perdagangan manusan dan lain sebagainya.
Namun dari perjumpaan kami sekitar dua jam ini ada salah atu cerita menari di bagian akhir, cerita singkat Rm. Christo tentang seorang petualang bernama Moonstar Simajuntak, dari namanya saja kita sudah mengetahui dari mana asalnya, dan sosok yang bernama Moonstar ini sebenarnya salah satu wartawan di ibukota dengan penghasilan besar, namun dalam pergumulan hidupnya ia masih bertanya tentang arti kata "bahagia". Setelah berpikir matang ia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerjanya, dan memutuskan belajar pada Indonesia dengan mengelilingi nusantara. 

Ia memulainya dari Merauke dan rencananya akan berakhir di Sabang, didalam perjalanannya inilah ia mengenal Rm. Christo ketika ia memutuskan mampir ke Sumba, singkat kata Moonstar akhirnya menetap untuk beberapa waktu di Sumba tepatnya di wilayah SBD, namun ketika ia akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanannya ia merasa ada sesuatu yang melekat di dalam dirinya tentang Sumba, ia merasakan menjadi bagian dalam keluarga, dan ia di anggap sebagai anak dalam keluarga itu, sesuatu yang jarang di dapatkan di Kota besar seperti Jakarta. Kisah ini ditutup ketika Moonstar akan menaiki travel yang mengantarnya menuju travel, lambaian tangan anak-anak kampung mengiring deraian air matanya sebagai penanda ia akan kembali lagi di Sumba.

Singkat kata, Moonstar pada suatu waktu akan sampai di Sabang dan akan berpose pada titik nol Indonesia, sebagai persinggahan terakhirnya dalam perjalanan mencari "bahagia" . Akhir dari cerita tentang pencariannya akan segera di bukukan.

Semoga sukses menemukan bahagia Moonstar

*kisah Moonstar ini bersumber dari penuturan Rm. Christo
Waingapu, 2016

Senin, 23 Mei 2016

Mengemas Praktek Cerdas dengan Cara yang Cerdas


Hari ini tanggal 23 Mei 2016 bertempat di Aula Unwina-Sumba, Yayasan Bakti mengadakan kegiatan berupa pemutaran Film dan Diskusi terkait “Pengelolaan Sumberdaya Alam berbasis Masyarakat Untuk Masa Depan Bumi yang Lebih Baik”, dalam kegiatan yang di ikuti beberapa SKPD , Anggota DPRD dan berbagai LSM, para peserta di sajikan sebuah Film Dokumenter yang menceritakan tentang berbagai praktek-praktek cerdas yang dilakukan oleh beberapa orang di Pulau Lombok dan Sumba. Adapun film itu terbagi menjadi empat bagian yaitu : pemamfaatan Sumberdaya Alam dengan melibatkan Sistem Informasi di Desa Aik bual, Ibu Ummi yang belokasi di Narmada-Lombok Barat dimana beliau memamfaatkan Sampah sebagai sumber ekonomi, Kang Rahmat sosok Inspiratif pertanian organik di Pulau Sumba dan Mama Marthina yang mengembangkan pupuk cair-organic yaitu bio slury.

Dari Film yang berdurasi sekitar dua puluh menit ini, bagi saya bisa menjadi sebuah inspirasi menarik, bukan pada aktivitas yang dilakukannya, namun saya lebih menyoroti kemasan isu yang dimetodekan oleh Yayasan Bakti, saya pernah beberapa kali mencoba menggunakan visual dalam bentuk video-video pendek yang ditonton oleh masyarkat desa, sebagai salah satu media informasi dan transfer pengetahuan, namun yang di lakukan Bakti kali ini, jelas sedikit menggelitik rasa ingin tau lebih dalam terkait bagaimana mengemas praktek cerdas dengan cara yang cerdas pula.

Bakti sebelumnya telah mengemas dengan cara membuatkan komik terkait program yang sementara dijalankannya, dan kali ini menggunakan Film sebagai media inovasi untuk menghantar isu-isu PSDA  bisa sampai ke tengah-tengah masyarakat secara komplit tanpa terputus-putus. Sesungguhnya ini bisa menjadi satu metode yang bisa di replikasi bersama, dengan kata lain bisa menjadi menjadi salah satu pilihan dalam kerja-kerja sosial di lapangan.

Singkat kata, inovasi dalam transfer informasi dan pengetahuan harus berbasis perkembangan sosial masyarakat, masyarakat hari ini sudah cukup jenuh dengan pidato ataupun ceramah-ceramah panjang, maka diperlukan suatu kekreativitasan dan inovasi yang berkelanjutan, sehingga akhirnya masyarkat kita jauh lebih gampang mereplikasi dalam bentuk praktek kerja nyata di lapangan.

Waingapu,2016

Sabtu, 14 Mei 2016

Nasib memilukan tanah pesisir di Sumba


Dalam tiga tahun terakhir, perkembangan Sumba terutama pariwisata sedemikian pesatnya,  di awali dengan “travel” menjadi gaya hidup dimana daerah timur indonesia menjadi favorit, serta bias dari film Pendekar Tongkat Emaspun telah menjadi salah satu penyebab berubahnya wajah pariwisata Sumba. Para wisatawan yang dahulunya didominasi oleh wisatawan asing, tiba-tiba dalam sekejap di dominasi wisatawan domestik (dalam negri), orang lokal (Sumba) tak ketinggalan menjadi traveller lokal yang berlomba mengunjungi daerah-daerah wisata baik yang sudah terkenal maupun yang belum. Dari berbagai lokasi yang di jadikan daerah kunjungan, daerah pesisir (pantai) sudah barang tentu menjadi destinasi yang paling diburu para penikmat wisata.

Salah satu dampak dari perkembangan itu adalah tanah di wilayah pesisir, harga tanah melonjak dengan membabi-buta, coba liat harga tanah di wilayah Sumba Timur khususnya dari wilayah Luanda Limma hingga Puru kambera, tidak ketinggalan juga harga tanah wilayah pesisir di Walakiri hingga Wera, semua melonjak dengan derasnya, ini jelas dikarenakan mulai masuknya dengan investor-investor dari luar Sumba yang tidak tanggung-tanggung sangat berani membeli tanah dengan harga yang tinggi, apalagi di wilayah selatan khususnya Tarimbang, harga ratusan juta hingga milyaran adalah harga yang wajar untuk sebidang tanah di wilayah pesisir.

Sekitar lima sampai sepuluh tahun kebelakang, tanah pesisir biasanya di kuasai oleh investor-investor lokal, namun hari ini investor-investor lokal mulai tergeser dengan “kegilaan” para pemburu dari luar, wilayah pantai Utara kini sudah di dominasi oleh investor yang tentunya sudah kita lihat papan nama yang begitu sombong menunjukan kuasanya, di wilayah Timur di kuasai oleh individu-individu dari kota besar yang menguasai berhektar-hektar wilayah pesisir dan di wilayah Selatan di kuasai oleh para orang asing.

Harga tanah yang melonjak tentunya sangat menarik bagi orang-orang desa pemilik tanah di wilayah pesisir, tanah di Sumba yang biasanya dimiliki secara bersama, dimiliki oleh kabihu (clan) tentunya menciptakan benih-benih konflik bila di jual demi kepentingan perseorang, sudah bukan menjadi rahasia, dibeberpa titik diwilayah pesisir, konflik-konflik kecil terkait kepemilikan tanah sudah muncul dan ini diperparah dengan kesewenangan para investor yang melakukan privatisasi pantai, buktinya, kita hari ini mulai kesulitan untuk mengakses beberpa pantai, baik karena larangan dari pemilik atau dikarenakan sudah di pagari dengan dinding batu.

Penjualan tanah pesisir jelas mempengaruhi jumlah uang yang berputar di desa, masyarkat desa atau pemilik tanah tentunya sedikit lupa  bahwa semenjak dahulu para leluhur telah mengharamkan penjualan tanah terutama tanah warisan, entah dengan alasan materi. Bagi yang melakukan pelanggaran tidak akan menemukan kebahagiaan sejati seperti dalam ungkapan “Paka tappa wangunya”, hidup sudah sempit dan tidak panjang lagi yang artinya akan ada akibat yang berkelanjutan bagi diri dan keturunannya.

Singkat kata dengan semua keadaan ini masyarkat pesisir telah mengalami perubahan sejengkal demi sejengkal, dimana sejengkal yang di jualnya adalah harapan bagi generasi mendatang, sejengkal itu hanya demi memuaskan kepentingan-kepentingan komsumtif seperti membeli motor , handphone baru atau barang-barang mewah seperti yang sering mereka tonton di televisi.

Pada akhirnya tanah pesisir di sumba ibarat suatu garis nasib yang memilukan, menjadi lahan favorit bagi destinasi wisata, dan menjadi kebangaan, sayangnya kebanggaan-kebanggaan itu hanya kebangaan yang semu, sebatas dunia maya, karena tanah itu bukan milik mereka ataupun kita, anak-anak yang dilahirkan dari langit yang sama di tana humba.

Waingapu, 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Terbentuknya pulau Sumba

       Ada beberapa hipotesis yang beralasan mengenai pergerakan dan pembentukan Pulau Sumba. Pulau Sumba yang berada di Kepulauan Nusa Tenggara bagian timur merupakan bagian dari busur depan (fore arc) atau busur luar (outer arc) dari kesatuan Busur Banda bagian barat, dimana selain Pulau Sumba terdapat Pulau Timor (NTT), Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kei (Maluku) yang juga merupakan satu deret outer arc/fore arc. Untuk inner arc dari Busur Banda sendiri terdiri atas Pulau Flores, pulau-pulau di timur Pulau Flores (Pulau Adonara, Solor, Lomblen, Pantar, Alor), Pulau Wetar, Kepulauan Damar dan Kepulauan Banda (Maluku) yang memanjang dengan orientasi barat ke timur lalu berubah arah (membusur) ke arah utara (Minarwan, 2012). Busur luar merupakan kepulauan non-vulkanik, sedangkan busur dalam umumnya merupakan kepulauan vulkanik. Hipotesis tersebut antara lain:

 

Pulau Sumba merupakan bagian dari Sundaland dan awalnya terletak di sekitar Teluk Bone di selatan Pulau Sulawesi. Pulau Sumba bergerak menuju selatan akibat adanya escape tectonicsEscape tectonicsmerupakan reaksi berupa pergerakan blok lempeng ke arah luar (menjauhi pusat tumbukan lempeng). Kronologinya adalah sebagai berikut. Pada Kenozoikum, anak benua India pada lempeng Indo-Australia bergerak relatif menuju arah utara dan mengalami tumbukan dengan lempeng Eurasia, implikasi utamanya adalah terbentuknya Pegunungan Himalaya. Implikasi lain yang terjadi adalah escape tectonicstersebut, dimana tumbukan antara kedua lempeng tersebut mengakibatkan adanya kompresi di sekitar zona tersebut. Ibarat puzzle, blok-blok lempeng ini awalnya merupakan pecahan dari Gondwana yang kemudian tersatukan di wilayah Indonesia bagian barat, lalu akibat adanya kompresi, pecah kembali dan bergerak menjauhi pusat kompresi tersebut. Sebagai contoh, blok-blok lempeng di sebelah timur zona tumbukan tersebut akan bergerak ke arah timur, menjauhi pusat kompresi tadi. Demikian pula dengan Pulau Sumba, bergerak dari sekitar Teluk Bone lalu bergerak akibatescape tectonics menuju tempatnya sekarang, di selatan Pulau Flores.

          Berbicara mengenai asal mulanya, setelah dilakukan korelasi stratigrafi antara Pulau Sumba, Sulawesi bagian selatan dan Kalimantan bagian tenggara, diperoleh fakta bahwa batuan di ketiga tempat tersebut berkorelasi dan urutannya hampir mirip.

 

Pulau Sumba awalnya terletak pada posisi Pulau Alor dan Wetar saat ini. Pulau Sumba bergerak ke barat sebagai konsekuensi dari tumbukan Lempeng Australia ke arah utara. Seiring pergerakannya ke arah barat, Pulau Sumba membuka cekungan Sawu yang saat ini merupakan Laut Sawu.

         Pergerakan Pulau Sumba yang sangat cepat diperkirakan merupakan implikasi dari adanya kompresi. Pulau Sumba menjauh dari pusat kompresi dengan cepat seiring tumbukan lempeng Australia. Ibarat bola yang dihimpit, bola tersebut akan berusaha keluar dari himpitan dan bergerak lateral ke arah luar dari gaya kompresi tersebut. Demikian halnya Pulau Sumba yang bergerak ke arah barat tersebut.

         Berkenaan dengan asal mula Pulau Sumba, menurut saya, poin nomor satu lebih bisa dipercaya karena adanya korelasi stratigrafi antara tempat tersebut, sehingga dapat dimungkinkan lebih jauh bahwa letak Pulau Sumba berada diantara Kalimantan bagian tenggara dan Sulawesi bagian selatan.

Referensi:

Forum Sedimentologiwan Indonesia, 2012. Berita Sedimentologi: Lesser Sunda.

Rutherford, E., et al. 2001. Tectonic history of Sumba Island, Indonesia, since the Late Cretaceous and its rapid escape into the forearc in the Miocene. Elsevier Science B.V.

Satyana, A., 2014. Indonesia: Dibangun 400 Juta Tahun

 <https://www. facebook.com/permalink.php?story_fbid=508800922599867&id=100004098920754> Diakses 13 November 2014.

Penulis : Hendra Guna Wijaya – Geofisika UGM’12

Sumber : hmgi.or.if

Senin, 09 Mei 2016

Cerita singkat Kemah Rohani di Hambuang





Kemah rohani telah selesai, kegiatan yang berlangsung di Hambuang selama tiga hari telah meninggalkan cerita yang mendalam bagi para peserta maupun panitia, dimulai dari dinamika proses persiapan kegiatan kemah rohani, kebersamaan dalam guyuran hujan hingga hiruk pikuk kelucuan dalam video-video lucu, adalah sekulumit cerita yang berbekas di Hambuang yang kini sepi dan kembali pada keadaan semula hanya gerak gerik pepohonan dan tanah lapang kecil di perkampungan.
Proses Mendesain ulang orang muda Katolik tentunya tidak mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan tentunnya namun kemah rohani telah memberikan pesannya sendiri, bahwa OMK Paroki MBSM layak berbangga diri dengan potensi-potensi muda yang kini lagi berpihak pada kekatolikan, ditengah dinamika persoalan bangsa dan tuntutan bergereja yang sangat kompleks bagi orang muda, OMK Paroki MBSM telah memulai meletakan batu pertama bagi tulang punggung gereja masa depan.

Diawali dengan pengantar utama pada hari pertama bagaimana Romo Edi menjelaskan “mengapa saya Katolik?” dengan begitu lugas, telah berhasil memecahkan sebuah dinding ilusi yang terbangun selama ini, sesungguhnya ada penjelasan yang sangat masuk akal dengan kronologis yang bisa dipertanggung jawabkan, bahwa kenapa saya katolik dikarenakan gereja tidak berpusat pada kebenaran yang besifat individual humanis namun gereja berpusat pada kebenaran tunggal yaitu Yesus Kristus.

Sabtu, 23 April 2016

Ijinkan Aku

Ijinkan aku, sesekali menikmati lekuk-lekuk dan aroma teh pegunungan
Yang dipetik pagi hari pada pertemuan jejak embun dan cahaya
Agar aku merindukan kopi, yang selalu kita nikmati ketika malam minggu
Pada pertemuan melodia dan suara, di sudut Cafe.

Waingapu, 2016

Jumat, 22 April 2016

Surat singkat



Akhirnya Pada suatu masa yang dimana kita tak saling mengetahui
Akan teringat satu pertemuan yang hampir mengikat kita, dalam hujan yang begitu suram
Dan aku akan meminta kembali suara yang selembut awan
Tatapan yang sempat memeluk ketika malam semakin dingin

Cahaya, sekali lagi ada tanya yang ingin diungkapkan
Bagaimana kabar hujan dikotamu
Apakah masih seharum pertemuan kita diruangan itu
Ataukah setemaram surat yang aku sampaikan padamu kali ini

Waingapu,2016

Rabu, 20 April 2016

Perkenalan sekali lagi!



        *untuk Cahaya

Derai-derai hujan dikotamu
Terik membakar-bakar dikotaku

Pertemuan kita akan ditentukan embun
di ringkihnya padi Candran
Hiruk-pikuk suara-suara melodia di ruang rapat itu

Derai rindu menggenang di jalanan dekat kampus
Api rindu membakar pepohonan tempat kaki berteduh

Kita akan berkenalan sekali lagi
Bila ada pertemuan diruang rapat itu
Ketika hiruk-pikuk melodia mereka
Menjadi kompas menemukanmu untuk pertama kali

Waingapu 2016