Selasa, 14 November 2017

Stop Planknisasi Sandelwood mari beralih ke Hutan Bakau


Sekitar akhir bulan September kemarin saya kebetulan lagi berada di Kupang untuk urusan kerjaan. Bukan hal yang aneh kalau berpergian keluar Sumba disempatkan dengan mengunjungi beberapa lokasi wisata di kota Kupang. Pantai Lasiana, pantai Tedis, Pantai Oesapa maupun Taman Nostalgia adalah beberapa spot favorit bagi kids jaman now di kota Kupang atau yang lagi berkunjung ke kota yang biasa dijuluki Kota Karang. Selain tempat-tempat tadi ternyata masih ada lokasi baru yang katanya lagi hits di kota Kupang yaitu hutan bakau.

Berlokasi di Oesapa Barat dan masih berada di dalam lingkar Kota Kupang, menjadikan lokasi hutan bakau mudah di akses, selain karena Kupang sudah cukup transportasinya, Google Maps Kota Kupang sudah cukup membantu untuk menemukan lokasi hutan bakau. Dari katakteristik ekowisata hutan bakau di Kupang hampir sama dengan beberapa tempat lainnya di Indonesia, dengan membuat jembatan menggunakan bahan kayu, dengan jalur yang berkelok-kelok mamupun lurus, serta beberapa pondok dengan bentuk-bentuk yang lucu, dimana salah satunya menyerupai perahu.

Saya tidak akan bercerita banyak tentang hutan bakau di Kupang, karena untuk lokasi wisata, hutan bakau sudah cukup banyak, salah satunya di Denpasar yang sudah cukup lama menjadikan hutan bakau salah satu destinasi wisatanya. Tetapi menurut saya hutan bakau di Kupang bisa menjadi pemantik bagi pengembangan ekowisata di Nusa Tenggara Timur.

Hutan Bakau di Sumba Timur

Mari kita kembali ke Sumba khususnya Sumba Timur yang perkembangan wisatanya lagi menjadi incaran turis domestik, salah satu lokasi wisatanya yang menjadi target para wisatawan adalah Pantai Walakiri yang terkenal dengan deretan bakau yang sangat khas, sehingga seringkali dikatakan bakau di Walakiri terlihat seperti sedang menari, karena bila diperhatikan dengan seksama, bentuk bakau di pantai ini berbeda dengan bakau pada umumnya. Sayangnya jumlah bakau yang menari dan menyendiri jumlahnya semakin sedikit, bisa jadi dikarenakan prilaku tidak terpuji dari para pengunjung yang terkadang memanjat pohon bakau atau menggantung Hammock, sejenis peralatan perang  yang lagi hits dalam pertempuran dunia selfie di jagat sosial media.

Selain pesona bakau yang menari sesungguhnya Sumba Timur masih memiliki potensi lain yang berkaitan dengan bakau. Bila mengacu pada hutan bakau di Kupang, maka menjadikan potensi bakau yang ada menjadi salah satu spot ekowisata adalah salah satu opsi dalam menambah pilihan wisata di Sumba Timur. Wilayah bakau di arah menuju Luanda Limma atau ke arah Kawangu dan beberapa lokasi di arah Timur pulau Sumba cukup kaya dengan potensi hutan bakau.

Stop Planknisasi

Terus bagaimana biayanya? Biaya untuk membangun ini menurut saya tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan rencana mebangun planknisasi di wilayah Palindi Tana Bara (Gunung Meja). Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bisa bekerja sama dengan desa setempat untuk  menata lokasi wisata hutan bakau, dengan sistem membagi keuntungan, sehingga tidak hanya bertujuan sebagai destinasi wisata tetapi mampu juga menciptakan lingkungan binaan yang akhirnya bermamfaat dan terukur, bila dikelola oleh desa dengan sistem manajemen yang baik.

Sedangkan anggaran untuk Planknisasi kita bisa prediksi secara singkat. Tentunya membutuhkan anggaran yang cukup besar, apalagi bila mengacu pada desain Planknisasi Sandelwood yang beredar di dunia maya beberapa waktu lalu. Mulai dari lelang, pengadaan, membangun konstruksi, hingga finishing tentunya membutuhkan anggara yang tidak sedikit. Dengan investasi anggaran yang begitu besar sudah tentu planknisasi tidak akan dikelola oleh desa, bisa jadi langsung diambil alih oleh pemerintah daerah sehingga sangat kurang berdampak bagi masyarakat desa.

Singkat kata, opsi membangun pariwisata bisa dilakukan sekreatif mungkin dengan optimalisasi anggaran yang tepat guna.

Stop Planknisasi di Sumba!!

Kamis, 05 Oktober 2017

Solusi rawan pangan di Sumba Timur

Setelah melihat realita yang terjadi beberapa bulan lalu, ketika agresi belalang ke wilayah kota, ini tamparan keras bagi semua elemen, bahwa kita tidak berhasil mengatasi hama belalang, yang sudah berlangsung hampir setahun, saya tidak akan bicara belalang, tetapi kekhawatiran yang muncul akibat hama belalang seperti dugaan banyak pihak bahwa rawan pangan akan melanda Sumba Timur, apalagi melihat ada beberapa wilayah yang gagal tanam karena curah hujan yang tidak menentu. Tetapi saya percaya orang Sumba khususnya Sumba Timur selalu berhasil mengatasi itu khususnya di luar kota walau dengan susah payah.

Beberapa tahun lalu, kita sempat dilanda rawan pangan hebat yang melanda semua kecamatan termasuk kecamatan kota, sebelum itu tahun-tahun sebelumnya juga terjadi hal yang sama, terus bagaimana penanganannya, karena berbicara rawan pangan tidak hanya sebatas tentang urusan perut tetapi membias hinga urusan sosial dan politik.

Selama ini rawan pangan selalu ditanggapi dengan program atau upaya-upaya kuratif, namun tidak pernah ada prefentif, padahal keadaan ini bisa diprediksi, contoh kongkrit hujan bisa diprediksi, hamapun bisa di prediksi bila melihat gejala alam, namun kenapa slalu saja terjadi, ibarat siklus!

Melihat kenyataan hari ini, perlu ada penanganan cepat sebelum terjadi rawan pangan yang hebat, ada beberapa cara yang menurut saya bisa dijadikan solusi cepat, karena menurut saya, rawan pangan yang terlalu sering, bisa merusak generasi selanjutnya, dan solusi pertama menurut saya adalah penganekaragaman pangan.

Hal yang klise bila kita berbicara penganekaragaman pangan, karena selama ini, itu yang dijadikan kampanye, namun pada kenyataanya ini hanya sebatas kampanye, penganekaragaman pangan seharusnya benar-benar dilakukan, komsumsi umbi-umbian dan kacang-kacangan harus jauh dari sebatas ucapan! Selain untuk menurunkan angka komsumsi beras dan pangan non beras bisa dijadikan sebagai sumber ketika beras habis!

Selain penganekaragaman pangan, perlu ada namanya perlindungan terhadap lahan-lahan produktif, dan ini hanya bisa dilakukan oleh pemerintah baik dari tingkat dua hingga ke desa, karena fungsi lahan-lahan produktif untuk ditanami sumber pangan, bukannya diinvestasikan dan dijadikan lahan tanam untuk tanaman non pangan! Selain itu pemerintah harus berani mengambil sikap untuk pemamfaatan lahan-lahan non produktif, atau lahan-lahan bekas pengembalaan, harus “dipaksa” untuk menanam tanaman pangan lokal yang sudah teruji daya tahannya.

Dalam kasus rawan pangan yang paling terasa dampaknya di desa, dikarenakan varian ekonomi di desa sangat terbatas dan diperparah dengan kompleksnya urusan ekologi-sosial didesa, maka solusinya adalah kembali melakukan penguatan kapasitas lokal desa, yang berbasis pengetahuan lokal desa terkait rawan pangan, karena saat ini nilai-nilai baru telah menggerus habis nilai-nilai ketahanan pangan, sosial ekologis yang sebenarnya sudah berada dalam endapan pengetahuan masyarakat Sumba secara holistik.

Yang terakhir, mungkin ini skala menengah atau panjang namun harus dimulai dari sekarang langkah awalnya, pemerintah seharusnya mulai bekerja dengan instansi pendidikan, kita sudah memiliki Unkriswina, yang merupakan satu-satunya Universitas, tujuannya untuk meramu bagaimana formula yang tempat untuk peningkatan produksi pangan di Sumba Timur, tentunya bukan pangan beras saja, tetapi pangan non beras pun harus ditingkatkan produksinya. Singkat kata, mungkin ini sebuah tawaran bagi semua elemen yang ditampar atas kejadian hari ini, kita diserang belalang, karena kalah dan salah antisipasi, andaikata ulasan singkat ini dianggap kritik, silahkan saja, bagi saya ini tawaran yang harus dicermati bersama.

Salam.

Senin, 02 Oktober 2017

Tulisan Sandelwood hanya gurauan semata

Sekitar seminggu lalu kita sedikit dikejutkan dengan gambar siluet gunung Meja (Sumba Timur) di hiasi Tulisan Sandelwood, yang di upload salah satu akun di group Waingapu Fans Club (WFC). Gambar itu langsung saja memantik pro-kontra , hampir sebagian besar mereka yang pro adalah mereka yang menginginkan adanya lokasi pariwisata baru dan yang kontra lebih berpendapat bahwa masih banyak yang harus di utamakan di Sumba Timur apalagi isu sarana prasarana dan kekeringan masih menjadi perhatian utama.

Bila berbicara kekeringan, itu bukan hal yang baru bagi Sumba Timur yang curah hujannya tiap tahun rata-rata hanya dua bulan saja. semenjak april Bupati Sumba Timur pun telah menyatakan bahwa Sumba Timur telah mengalami bencana kekeringan dan stok beras pun telah habis. Tidak beda jauh dengan sarana prasarana, pola pemukiman penduduk di Sumba Timur yang tidak tersentral dan penyebaran secara acak sungguh menguras biaya pembangunan sarana prasarana pendukung, khususnya jalan raya, itu bisa di buktikan dengan melewati jalur selatan Sumba Timur, kita bisa menyaksikan realita bagaimana jalan raya menjadi musuh utama alat transportasi (Baca : Bis, truk, motor).

Tentang pariwisata di Sumba Timur, ibaratnya permen manis yang menjadi buruan semua orang, hampir semua lokasi wisata telah diserang oleh antek-antek penjajah baru, yang menguasai hampir sebagian besar wilayah pesisir Sumba Timur dan penduduk asli terjepit dan mundur karena tidak memiliki ide dan modal yang cukup, andaikata kecipratan bisa jadi hanya sebatas menjadi pedagang kaki lima yang untungnya belum tentu besar. Londa Lima bisa jadi contoh menarik, lokasi wisata yang sangat terkenal dari jaman opa oma masih muda, sampai saat ini tidak berhasil menciptakan lingkungan binaan yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi wisata. Walakiri yang pantainya di peluk oleh pasir putih dan pohon bakau yang menari, akhirnya hanya mampu menjual kelapa muda, singkat kata ada yang salah dalam menata manajemen lokasi wisata di Sumba Timur.

Pada Intinya Pembangunan tulisan Sandelwood di Gunung meja menurut saya hanya sebatas candaan semata, apalagi dilihat dari jumlah anggaran yang diprediksi untuk membangun lokasi selfie baru setelah bosan dengan Lai Uhuk (Wairinding) ataupun Bukit Persaudaraan ( Mauhau). Anggaran yang dibutuhkan menurut Abba Ali (Anggota DPRD) dan Harun Marambadjawa (ASN) yang berkisar puluhan sampai ratusan milyar sungguh cerita humor yang tidak lucu, karena untuk membangun salah satu objek baru anggarannya melebihi PAD Sumba Timur yang berada di bawah 100 Milyar (kalau disebutkan angkannya kekecilan).

Sederhananya entah rencana pembangunan ini sudah dilakukan semenjak beberapa tahun lalu, sebaiknya dipertimbangkan lagi, karena perlu analisis sosial ekonomi yang tepat, jangan hanya sebatas pencitraan dan guyonan semata, jangan sampai akhirnya spot baru ini hanya akan ditingali oleh hantu atau sebatas lokasi baru untuk memadu kasih dan transaksi seksual baru seperti lokasi-lokasi lainnya.

Selamat bermimpi dan bercanda.


Sabtu, 30 September 2017

Dari Kanggoa hingga On The Rock

“orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah” (Pramodya Ananta Toer)


Sudah hampir setahun saya tidak menulis lagi di Blog, alasannya sederhana, bisa jadi karena blog agak sedikit lebih ribet memasukan tulisan di banding facebook, tetapi akhirnya hasrat itu datang juga di antara kopi dan donat di sore hari ini.

Tulisan ringan kali ini, lebih bercerita tentang salah satu mantan anak binaan saya di Komunitas Ana humba (AH Community), nama lengkapnya Milia Dwiputri Manu, yang lahir di Kanggoa, 18 tahun lalu, panggilannya Milia tetapi saya lebih suka memanggilnya kucing, kenapa kucing nanti baru saya jelaskan, andaikata ingat.

Milia saya kenal sebenarnya sudah cukup lama sekitar tahun 2015, ketika itu dia tiba-tiba tertarik terlibat dalam satu workshop Cerpen di Waingapu, namun setelah itu tidak pernah ada lagi kabar berita, padahal saat itu saya merasa dia bibit yang cukup menjanjikan dan sekitar tahun 2016 Milia mulai terlibat lagi dengan AH.

Seingat saya sekitar Desember tahun lalu (2016) ketika AH terlibat dalam Photovoice Sumba, Milia mendapat tugas untuk membuat dan membawa puisi, namun ketika melihat pertama kali puisi yang Milia buat, jujur saya cukup kecewa, karena tidak sesuai standar yang saya miliki.

Berangkat dari pribadi yang merasa tidak memiliki talenta, dan sedikit malas untuk hal-hal yang berbau sekolah, ini anak nona cukup tekun urusan puisi, setelah berulang-ulang kali, belajar dan diskusi (dengan cara yang sulit di terima banyak orang) akhirnya Milia bisa juga mencipta puisi yang sesuai standar usianya, kuncinya sederhana, diskusi, baca dan berlatih. Buku-buku pernyair nasional seperti Aan Mansyur dan kawan-kawannya menjadi bahan untuk memperkuat bahan puisinya.

Setelah beberapa bulan pengakuan akhirnya muncul dari saya, Diana Timoria, Hans Hayon dan beberapa penulis muda di NTT, dan yang paling menggembirakan adalah pengakuan dari seorang Frans W. Hebi seorang Wartawan, Sastrawan dan Budayawan yang sangat senior di pulau Sumba, beberapa puisi milik Milia akhirnya di ulas di Bengkel Bahasa Max FM Waingapu. Menurut Frans W. Hebi, Milia adalah talenta yang sangat jarang di miliki Sumba, dengan usia sangat muda sudah sangat fasih menulis puisi prismatis.

Milia kini sudah menjadi bagian dari Alumni AH, ia sudah berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Cendana, harapannya ia akhirnya menjadi salah satu pengacara yang mampu hadi untuk orang-orang marginal, seperti cita-cita di AH Community. Puisi masih menjadi bagian dari aktivitasnya, walau ia sekarang lebih sering menjadi pembaca puisi, setelah beberapa kali baca puisi di kampus, yang terakhir kemarin tanggal 30 September 2017, ketika orang lagi diributkan oelh hiruk-pikuk isu komunis. Milia di undang oleh komunitas Saint Egedia, untuk membaca puisi di acara Doa dan Dialog damai, bertempat di On The Rock Hotel – Kupang.

Rindu
Karya : MDP

Denyut gerimis luruh, meninggalkan gundah di atas tanah
Mungkin ia telah dikubur
Atau ia terpenjara di antara dedaun gigil, kelopak suntuk, atau aroma gugur
Bahkan ia sendiri pun gugur
Dari tepi ruang tua, ada tubuh yang lebur dalam bayang asmara menyimpan secangkir peluk, erat
Mengalir kata-kata tak bertuan, meminta nyawa pasangnya tumbuh menyatu tanpa syarat

Waktu hadir membelah rasa dan asa, menyimak pekat kebisuan dalam akhir jumpa
Aku terkapar mengingatmu
Mengingatmu dan dan memutuskan ini adalah rindu

Aku menjadi jilat, menginginkanmu tertitip hingga menutup mata, bersamaku
Tak pernah mati kolong bintang menyerahkan nafasmu untuk dinikmati hayal
Lembaran jiwaku mekar saat akan memanggilmu kembali

Pada senja namamu disulam jadi doa suci, ku mohon bangkitlah

Rindu ini bukan tentang pemakaman kenangan yang akan berakhir atau secangkir kopi yang dapat disuguhkan siapa saja
Rindu ini tentang kau dan aku, hujan dan secangkir kopi, senja dan bintang dalam kalimat ke paris

Rindu adalah baling-baling kecil yang melayang mencari kabar dan kata yang berdiam dalam bibi
Rindu yang mungkin menjadi keharusan di telapak tangan kita

Matawai, 01 Maret 2017

Rabu, 29 Juni 2016

Didi dan semester alamnya

Inilah suasana diskusi kami bertiga malam ini, antara saya, Nero dan Didi... siapa Didi? Didi salah seorang backpacker asal bandung, kebetulan ia berkuliah disana, namun asal yang sebenarnya Bukit tinggi, kota asal pemuda tanggung yang baru saya kenal sehari.

Sudah lebih dari 5 bulan didi melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dari cerita serta deretan foto yang saya liat pemuda dengan jargon "semester alam" ini sudah menginjak Sabang sampai merauke, katanya di Merauke mahal, makan sekali saja 30 ribu.. sebenarnya tidak mahal bila di bandingkan dengan harga makanan cafe di Waingapu, tapi saya sangat paham bagi seorang Backpacker harga segitu cukup lumayan mahal, apalagi untuk kantong mahasiswa.

Setelah sempat bercerita banyak tentang Sumba, dan beberapa hal yang jauh dari kata politik atau hiruk pikuk negara, didi menyerahkan selembar kertas, katanya bukan kuisioner tetapi sebuah catatan tentang harapan untuk Indonesia, cukup lama saya berpikir ( sekitar 5 menit) katanya boleh tulis puisi, karena alasanya catatan harapan itu akan dibukukan, tapi saya lebih menulis sepotong kalimat " lebih banyak orang gila!"

Nb : menurut saya kenapa butuh orang gila, karena  Indonesia sudah banyak orang waras dan pintar, tetapi... (titik titiknya kalian isi sendiri saja)

Semoga menemukan bahagia Moonstar

Hari ini saya akhirnya ketemu dengan salah satu penulia dari Sumba yaitu Romo Christo Ngasi, selama ini perkenalan kami cuma lewat dunia maya semata. Sekedar informasi Romo Christo sudah memiliki dua buku yaitu Ndaina dan Mataliku, kedua bukunya yaitu buku fiksi.

Dalam pertemuan pertama yang ditemani Ka Marta, Ka Wenda dan Diana Timoria di Sekretariat Sopan (Solidaritas Perempuan dan Anak) yang berada di kantor Koppesda. Kami berlima berbagi cerita tentang banyak hal, tidak cuma sebatas isu-isu tentang kesusastraan saja, namun juga isu-isu Sosbud yang lalu lalang di tengah masyarakat seperti isu perdagangan manusan dan lain sebagainya.
Namun dari perjumpaan kami sekitar dua jam ini ada salah atu cerita menari di bagian akhir, cerita singkat Rm. Christo tentang seorang petualang bernama Moonstar Simajuntak, dari namanya saja kita sudah mengetahui dari mana asalnya, dan sosok yang bernama Moonstar ini sebenarnya salah satu wartawan di ibukota dengan penghasilan besar, namun dalam pergumulan hidupnya ia masih bertanya tentang arti kata "bahagia". Setelah berpikir matang ia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerjanya, dan memutuskan belajar pada Indonesia dengan mengelilingi nusantara. 

Ia memulainya dari Merauke dan rencananya akan berakhir di Sabang, didalam perjalanannya inilah ia mengenal Rm. Christo ketika ia memutuskan mampir ke Sumba, singkat kata Moonstar akhirnya menetap untuk beberapa waktu di Sumba tepatnya di wilayah SBD, namun ketika ia akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanannya ia merasa ada sesuatu yang melekat di dalam dirinya tentang Sumba, ia merasakan menjadi bagian dalam keluarga, dan ia di anggap sebagai anak dalam keluarga itu, sesuatu yang jarang di dapatkan di Kota besar seperti Jakarta. Kisah ini ditutup ketika Moonstar akan menaiki travel yang mengantarnya menuju travel, lambaian tangan anak-anak kampung mengiring deraian air matanya sebagai penanda ia akan kembali lagi di Sumba.

Singkat kata, Moonstar pada suatu waktu akan sampai di Sabang dan akan berpose pada titik nol Indonesia, sebagai persinggahan terakhirnya dalam perjalanan mencari "bahagia" . Akhir dari cerita tentang pencariannya akan segera di bukukan.

Semoga sukses menemukan bahagia Moonstar

*kisah Moonstar ini bersumber dari penuturan Rm. Christo
Waingapu, 2016

Senin, 23 Mei 2016

Mengemas Praktek Cerdas dengan Cara yang Cerdas


Hari ini tanggal 23 Mei 2016 bertempat di Aula Unwina-Sumba, Yayasan Bakti mengadakan kegiatan berupa pemutaran Film dan Diskusi terkait “Pengelolaan Sumberdaya Alam berbasis Masyarakat Untuk Masa Depan Bumi yang Lebih Baik”, dalam kegiatan yang di ikuti beberapa SKPD , Anggota DPRD dan berbagai LSM, para peserta di sajikan sebuah Film Dokumenter yang menceritakan tentang berbagai praktek-praktek cerdas yang dilakukan oleh beberapa orang di Pulau Lombok dan Sumba. Adapun film itu terbagi menjadi empat bagian yaitu : pemamfaatan Sumberdaya Alam dengan melibatkan Sistem Informasi di Desa Aik bual, Ibu Ummi yang belokasi di Narmada-Lombok Barat dimana beliau memamfaatkan Sampah sebagai sumber ekonomi, Kang Rahmat sosok Inspiratif pertanian organik di Pulau Sumba dan Mama Marthina yang mengembangkan pupuk cair-organic yaitu bio slury.

Dari Film yang berdurasi sekitar dua puluh menit ini, bagi saya bisa menjadi sebuah inspirasi menarik, bukan pada aktivitas yang dilakukannya, namun saya lebih menyoroti kemasan isu yang dimetodekan oleh Yayasan Bakti, saya pernah beberapa kali mencoba menggunakan visual dalam bentuk video-video pendek yang ditonton oleh masyarkat desa, sebagai salah satu media informasi dan transfer pengetahuan, namun yang di lakukan Bakti kali ini, jelas sedikit menggelitik rasa ingin tau lebih dalam terkait bagaimana mengemas praktek cerdas dengan cara yang cerdas pula.

Bakti sebelumnya telah mengemas dengan cara membuatkan komik terkait program yang sementara dijalankannya, dan kali ini menggunakan Film sebagai media inovasi untuk menghantar isu-isu PSDA  bisa sampai ke tengah-tengah masyarakat secara komplit tanpa terputus-putus. Sesungguhnya ini bisa menjadi satu metode yang bisa di replikasi bersama, dengan kata lain bisa menjadi menjadi salah satu pilihan dalam kerja-kerja sosial di lapangan.

Singkat kata, inovasi dalam transfer informasi dan pengetahuan harus berbasis perkembangan sosial masyarakat, masyarakat hari ini sudah cukup jenuh dengan pidato ataupun ceramah-ceramah panjang, maka diperlukan suatu kekreativitasan dan inovasi yang berkelanjutan, sehingga akhirnya masyarkat kita jauh lebih gampang mereplikasi dalam bentuk praktek kerja nyata di lapangan.

Waingapu,2016

Sabtu, 14 Mei 2016

Nasib memilukan tanah pesisir di Sumba


Dalam tiga tahun terakhir, perkembangan Sumba terutama pariwisata sedemikian pesatnya,  di awali dengan “travel” menjadi gaya hidup dimana daerah timur indonesia menjadi favorit, serta bias dari film Pendekar Tongkat Emaspun telah menjadi salah satu penyebab berubahnya wajah pariwisata Sumba. Para wisatawan yang dahulunya didominasi oleh wisatawan asing, tiba-tiba dalam sekejap di dominasi wisatawan domestik (dalam negri), orang lokal (Sumba) tak ketinggalan menjadi traveller lokal yang berlomba mengunjungi daerah-daerah wisata baik yang sudah terkenal maupun yang belum. Dari berbagai lokasi yang di jadikan daerah kunjungan, daerah pesisir (pantai) sudah barang tentu menjadi destinasi yang paling diburu para penikmat wisata.

Salah satu dampak dari perkembangan itu adalah tanah di wilayah pesisir, harga tanah melonjak dengan membabi-buta, coba liat harga tanah di wilayah Sumba Timur khususnya dari wilayah Luanda Limma hingga Puru kambera, tidak ketinggalan juga harga tanah wilayah pesisir di Walakiri hingga Wera, semua melonjak dengan derasnya, ini jelas dikarenakan mulai masuknya dengan investor-investor dari luar Sumba yang tidak tanggung-tanggung sangat berani membeli tanah dengan harga yang tinggi, apalagi di wilayah selatan khususnya Tarimbang, harga ratusan juta hingga milyaran adalah harga yang wajar untuk sebidang tanah di wilayah pesisir.

Sekitar lima sampai sepuluh tahun kebelakang, tanah pesisir biasanya di kuasai oleh investor-investor lokal, namun hari ini investor-investor lokal mulai tergeser dengan “kegilaan” para pemburu dari luar, wilayah pantai Utara kini sudah di dominasi oleh investor yang tentunya sudah kita lihat papan nama yang begitu sombong menunjukan kuasanya, di wilayah Timur di kuasai oleh individu-individu dari kota besar yang menguasai berhektar-hektar wilayah pesisir dan di wilayah Selatan di kuasai oleh para orang asing.

Harga tanah yang melonjak tentunya sangat menarik bagi orang-orang desa pemilik tanah di wilayah pesisir, tanah di Sumba yang biasanya dimiliki secara bersama, dimiliki oleh kabihu (clan) tentunya menciptakan benih-benih konflik bila di jual demi kepentingan perseorang, sudah bukan menjadi rahasia, dibeberpa titik diwilayah pesisir, konflik-konflik kecil terkait kepemilikan tanah sudah muncul dan ini diperparah dengan kesewenangan para investor yang melakukan privatisasi pantai, buktinya, kita hari ini mulai kesulitan untuk mengakses beberpa pantai, baik karena larangan dari pemilik atau dikarenakan sudah di pagari dengan dinding batu.

Penjualan tanah pesisir jelas mempengaruhi jumlah uang yang berputar di desa, masyarkat desa atau pemilik tanah tentunya sedikit lupa  bahwa semenjak dahulu para leluhur telah mengharamkan penjualan tanah terutama tanah warisan, entah dengan alasan materi. Bagi yang melakukan pelanggaran tidak akan menemukan kebahagiaan sejati seperti dalam ungkapan “Paka tappa wangunya”, hidup sudah sempit dan tidak panjang lagi yang artinya akan ada akibat yang berkelanjutan bagi diri dan keturunannya.

Singkat kata dengan semua keadaan ini masyarkat pesisir telah mengalami perubahan sejengkal demi sejengkal, dimana sejengkal yang di jualnya adalah harapan bagi generasi mendatang, sejengkal itu hanya demi memuaskan kepentingan-kepentingan komsumtif seperti membeli motor , handphone baru atau barang-barang mewah seperti yang sering mereka tonton di televisi.

Pada akhirnya tanah pesisir di sumba ibarat suatu garis nasib yang memilukan, menjadi lahan favorit bagi destinasi wisata, dan menjadi kebangaan, sayangnya kebanggaan-kebanggaan itu hanya kebangaan yang semu, sebatas dunia maya, karena tanah itu bukan milik mereka ataupun kita, anak-anak yang dilahirkan dari langit yang sama di tana humba.

Waingapu, 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Terbentuknya pulau Sumba

       Ada beberapa hipotesis yang beralasan mengenai pergerakan dan pembentukan Pulau Sumba. Pulau Sumba yang berada di Kepulauan Nusa Tenggara bagian timur merupakan bagian dari busur depan (fore arc) atau busur luar (outer arc) dari kesatuan Busur Banda bagian barat, dimana selain Pulau Sumba terdapat Pulau Timor (NTT), Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kei (Maluku) yang juga merupakan satu deret outer arc/fore arc. Untuk inner arc dari Busur Banda sendiri terdiri atas Pulau Flores, pulau-pulau di timur Pulau Flores (Pulau Adonara, Solor, Lomblen, Pantar, Alor), Pulau Wetar, Kepulauan Damar dan Kepulauan Banda (Maluku) yang memanjang dengan orientasi barat ke timur lalu berubah arah (membusur) ke arah utara (Minarwan, 2012). Busur luar merupakan kepulauan non-vulkanik, sedangkan busur dalam umumnya merupakan kepulauan vulkanik. Hipotesis tersebut antara lain:

 

Pulau Sumba merupakan bagian dari Sundaland dan awalnya terletak di sekitar Teluk Bone di selatan Pulau Sulawesi. Pulau Sumba bergerak menuju selatan akibat adanya escape tectonicsEscape tectonicsmerupakan reaksi berupa pergerakan blok lempeng ke arah luar (menjauhi pusat tumbukan lempeng). Kronologinya adalah sebagai berikut. Pada Kenozoikum, anak benua India pada lempeng Indo-Australia bergerak relatif menuju arah utara dan mengalami tumbukan dengan lempeng Eurasia, implikasi utamanya adalah terbentuknya Pegunungan Himalaya. Implikasi lain yang terjadi adalah escape tectonicstersebut, dimana tumbukan antara kedua lempeng tersebut mengakibatkan adanya kompresi di sekitar zona tersebut. Ibarat puzzle, blok-blok lempeng ini awalnya merupakan pecahan dari Gondwana yang kemudian tersatukan di wilayah Indonesia bagian barat, lalu akibat adanya kompresi, pecah kembali dan bergerak menjauhi pusat kompresi tersebut. Sebagai contoh, blok-blok lempeng di sebelah timur zona tumbukan tersebut akan bergerak ke arah timur, menjauhi pusat kompresi tadi. Demikian pula dengan Pulau Sumba, bergerak dari sekitar Teluk Bone lalu bergerak akibatescape tectonics menuju tempatnya sekarang, di selatan Pulau Flores.

          Berbicara mengenai asal mulanya, setelah dilakukan korelasi stratigrafi antara Pulau Sumba, Sulawesi bagian selatan dan Kalimantan bagian tenggara, diperoleh fakta bahwa batuan di ketiga tempat tersebut berkorelasi dan urutannya hampir mirip.

 

Pulau Sumba awalnya terletak pada posisi Pulau Alor dan Wetar saat ini. Pulau Sumba bergerak ke barat sebagai konsekuensi dari tumbukan Lempeng Australia ke arah utara. Seiring pergerakannya ke arah barat, Pulau Sumba membuka cekungan Sawu yang saat ini merupakan Laut Sawu.

         Pergerakan Pulau Sumba yang sangat cepat diperkirakan merupakan implikasi dari adanya kompresi. Pulau Sumba menjauh dari pusat kompresi dengan cepat seiring tumbukan lempeng Australia. Ibarat bola yang dihimpit, bola tersebut akan berusaha keluar dari himpitan dan bergerak lateral ke arah luar dari gaya kompresi tersebut. Demikian halnya Pulau Sumba yang bergerak ke arah barat tersebut.

         Berkenaan dengan asal mula Pulau Sumba, menurut saya, poin nomor satu lebih bisa dipercaya karena adanya korelasi stratigrafi antara tempat tersebut, sehingga dapat dimungkinkan lebih jauh bahwa letak Pulau Sumba berada diantara Kalimantan bagian tenggara dan Sulawesi bagian selatan.

Referensi:

Forum Sedimentologiwan Indonesia, 2012. Berita Sedimentologi: Lesser Sunda.

Rutherford, E., et al. 2001. Tectonic history of Sumba Island, Indonesia, since the Late Cretaceous and its rapid escape into the forearc in the Miocene. Elsevier Science B.V.

Satyana, A., 2014. Indonesia: Dibangun 400 Juta Tahun

 <https://www. facebook.com/permalink.php?story_fbid=508800922599867&id=100004098920754> Diakses 13 November 2014.

Penulis : Hendra Guna Wijaya – Geofisika UGM’12

Sumber : hmgi.or.if