Bocah memar berwaktu #1


Hari itu di mulai dengan tetesan langit membasahi batu satu satu dalam riaknya menemukan sebatang beringin rindang purbani kokoh di antara semak semak kecil, terlihat jelas dua bocah kecil bercengkrama memainkan kailnya penuh tawa berharap seekor mujair atau lele mau merendah hati setidaknya sekali saja menyapa umpan cacing hasil galian mereka di pinggir sungai semenjak pagi.
Ardi bocah kecil tinggi tanggung hari itu masih memakai kaos seragam lengkap beratasan putih dan bercelana merah kusam asam dlam tawanya memandang ahmad yang lagi melempar kail pendeknya membuka pembicaraan “mad, tumben jam segini sudah disini” Tanya ardi sedikit keheranan semenjak tadi, karna biasanya sahabatnya yang satu ini akan datang mengirim kail bila hari mulai beranjak siang tapi kali ini ada yang berbeda ahmad memancing semenjak pagi, tanpa berkaos mata kanannya sedikit lebam, ingin rasanya ardi menanyakan itu namun urung di lakukannya takutnya akan menyinggung ahmad, karna dalam lubuk hatinya ardi sebenarnya tau apa yang menyebabkan mata ahmad berhias lebam.
“lagi malas saja di, maklum mau ke sekolah juga ga asik” jawab ahmad seraya memperhatikan tali kailnya yang mengikuti arus aliran sungai.
“mendingan kesini, ga ada yang melarang…. Hahhahah” tawa ahmad menyirangai
“ kau kaya koes plus saja… heheheh” balas ardi menimpali
Kedua bocah tanggung itu kembali bersanda gurau terkadang bercerita tentang bu Martha yang kejanya main pukul di kelas, bercerita tentang teman merek ricky yang sok preman di sekolah mungkin karna terinspirasi sinetron di televise ataukah rani anak wanita pindahan dari Jakarta yang selalu bercerita tentang internet tentang facebook atau apalah cerita cerita yang sangat asing bagi bocah sd kelas VI di salah satu sudut kota waingapu,
Namun tetap saja tawa tawa mereka tak bisa seketika memadamkan suara Tanya dalam hati ardi, dengan sangat hati hati berusaha menayakan apa yang bertanya Tanya dalam hatinya,
“mad… sori ada yang sa mau Tanya” Tanya ardi bernada pelan dan cukup hati hati
“hahahha… tenang saja di, saya mengerti maksudmu” ahmad langsung menjawab karna semenjak tadi telah menyimak sorot mata ardi yang selalu saja mengarah ke mata lebab ardi.
“biasalah.. ayahku mungkin lagi kalah judi” sambung ahmad
“tapi ini sudah terlalu sering mad” jawab ardi sembil mengernyitkan dahi
“di.. keluargamu berbeda dengan ku” timpal ahmad
Ahmad bocah kecil itu di lahirkan dari keluarga yang sedikit bermasalah dengan ekonomi lebih tepatnya berasal dari keluarga tidak mampu, ibunya hanya seorang penjual kue pisang di pasar yang penghasilannya pas pasan begitu pula ayahnya hanya seorang buruh tani yang berpenghasilan tidak menentu, pak ali biasanya di panggil sebenarnya anak dari seorang saudagar kaya pada masanya, memiliki sawah yang berhektar hektar serta perusahan kayu warisan leluhur ahmad tapi sayang pak ali terlalu senang judi akibatnya harta orang tua pa kali tanpa sekejap mata di telan meja judi dan beberapa sawahnya di gadai untuk kepuasan hasrat judinya. Kebiasaanya ini di perparah penghasilan buruh tani yang kecil serta kebiasan buruknya yang terlalu gampar main tangan, istrinya, ahmad dan nuraini anak gadisnya yang terkecil selalu menjadi sasaran perjalanan kelima jari kekarnya.

bersambung

Komentar