Vany Kadiwanu (wanita Sumba pertama yang turut ambil bagian dalam program Indonesia Mengajar)







Hampir jam 6 sore hujan mengguyur waingapu sore ini, dedaunan boleh riang tapi saya dan seorang teman cukup kagok memasuki pekarangan rumah yang baru kami hinggapi, sempat tertunda sejam di hadang hujan tapi bukan berarti niat untuk kopdar dengan wanita yang satu ini jadi surut, bukankah semua butuh tantangan,

 

Vany begitu biasanya dia di sapa dengan nama lengkap Agriani Stevany Kadiwanu  lahir  18 September 1988, sosok yang  hampir sama dengan wanita sumba pada umumnya, dengan kulit coklat, serta rambut ikal,  cukup supel untuk ukuran orang yang baru di kenal. Awalnya perjumpaan kami cuma sekilas, namun setelah perjumpaan via twitter, banyak perbicangan yang sangat mengalir di salah satu jejaring sosial tersebut.  Sambutan yang berupa diskusi hangat serta suasana santai di depan teras rumahnya (belakang Gks Umamapu), menjadi selimut penghalang dingin yang ampuh.


 
perjalanan menuju Pulau Enggohe, Tabukan Utara




SD GMIST-SION, Pulau Enggohe, Tabukan Utara ,Sangir, salah satu Kabupaten Di Sulawesi Utara, di situlah wanita dengan tinggi semampai ini pernah mengabdi, menjadi salah satu guru di perkampungan nelayan selama setahun periode april 2011-juni 2012, adalah sebuah pengalaman yang merubah cara pandangnya tentang kehidupan, berawal dari ajakan seorang teman yang berkerja di salah satu majalah nasional, vani akhirnya mengikuti beberapa tahapan Indonesia mengajar, salah satu program yang di canangkan oleh Aniez Baswedan dimana menempatkan sarjana sarjana terbaik di wilayah wilayah terpencil di Indonesia.



Mungkin bagi sebagian orang khususnya wanita Sumba, pergi ke suatu wilayah asing mungkin bisa jadi hal yang cukup “menakutkan” tapi bagi wanita ini hidup di pesisir pantai utara indonesia sama saja pergi kerumah kedua baginya, walau harus kekurangan sinyal handphone di mana harus ke pantai biar dapat sinyal, listrik yang jarang ,respon pemda yang tidak terlalu welcome, belum lagi latar belakang sosial budaya, namun dengan enteng wanita ini menjawab “sama saja kita dari ke jawa pulang sumba” namun orangnya yang berbeda.

vani bersama anak walinya di kelas V

Di sekolah dasar ini lah, vani menjadi wali kelas V, bertemu dengan wajah wajah baru namun tidak asing karena merekapun bagian dari Indonesia katanya, dalam perjalanannya seringkali karna kekurangan staf pengajar, maka terkadang ia harus siap mengajar seluruh kelas, tapi aktivitas ini akhirnya membuat Vany jatuh cinta dengan profesi ini, bisa berhadapan dengan berbagai karakteristik muridnya, di pertemukan dengan berbagai tantangan. Selain mengajarpun Vany masih menyempatkan diri membangun apa yang sudah hilang di sekolah itu, perpustakaan yang sudah lapuk di bangunnya kembali, karna ia sadar benar bagi anak anak di pesisir seperti ini, buku adalah senjata paling ampuh untuk mengenal dunia luar, dan mencintai kehidupan.


Awalnya saya berharap bisa menggali suka dukanya seorang Vany dalam menekuni profesi pendidik di Pulau Enggohe, namun ternyata saya salah, cerita yang saya dapat lebih banyak sukanya, bukan keluhan bahwa tidak ada jaringan 3G, atau yang lainnya.  Ia cukup bahagia berteman dengan laut lepas, keluarga baru, dan yang pasti profesi barunya sebagai seorang guru. Masyarkat disana pun mengalami hal yang sama telah menganggap Vany bagian dari keluarga besar Pulau Enggohe,  jadi hal yang wajar walau sudah kembali dan menetap di Sumba, terkadang datang sms sekedar menanyakan kabar, atau telephone untuk menanyakan sudah makan apa belum. Inilah bukti nyata  begitu besar kesan yang tinggalkan wanita berdarah Anakalang di Pulau Enggohe


 
anak anak Pulau Enggohe lagi serius belajar

bersama salah satu guru di SD GMIST-Sion

Vany dan buku

Selama perbincangan berlangsung, saya mengambil kesimpulan bahwa wanita ini sangat mencintai buku dan buku apa saja,  itu tertuang dengan ide segarnya tentang sebuah taman baca di teras rumahnya, bemodal dengan 200an koleksi bukunya, ia cukup optimis membangun taman baca ini dengan harapan  bisa memberi warna bagi para pembacanya khususnya anak anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, karna seperti kutipan yang di comot dari kata kata Aniez Baswedan, bahwa tugas orang terdidik adalah mendidik, dan buku merupakan media utama dalam mendidik, jadi sungguh kasian kalau akhirnya anak anak di  sekitarnya tidak merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan, sesuai penuturannya bahwa buku membantu dirinya dalam mengambil keputusan keputusan besar dalam hidupnya, baik ketika harus mengambil keputusan harus kuliah di Petra jurusan komunikasi, dan keputusan mengambil kesempatan menjadi bagian dari Indonesia Mengajar.


menyiapkan buku buku untuk taman baca 


Vany memang sosok yang tidak bisa di jauhkan dari apa yang namanya buku, semenjak bangku kuliah dia sudah ngambil bagian di peprpustakaan, begitu juga setelah kerja di salah satu perpusahaan yang memperuntukkan wilayah untuk zona perpustakaan, Vany tetap mengambil bagian di dalamnya, dan setelah di Sumba dia di bantu beberapa teman-temannya siap mengeksekusi sebuah taman baca  bagi semua kalangan umur, dan ini mungkin oleh oleh bagi kita orang muda di Waingapu sebelum Vany kembali ke Jakarta dan menjadi staff pengajar di Raffles International Christian School.

Mungkin itu sedikit  ulasan dari saya semoga menjadi sebuah inspirasi baru bagi orang orang muda sumba. Sekali lagi orang muda jangan bingung!!
jumpa dengan tokoh tokoh muda selanjutnya
“stop mengeluh dan mulai tularkan pikiran pikiran positif, lebih bagus mencari solusi dan melakukan sesuatu”
(Vani Kadiwanu)


#oleh oleh photo
dari Pulau Enggohe-Tabukan Utara
sumber foto :http://www.facebook.com/agriani.kadiwanu












Komentar

  1. Sebenarnya saya tidak tahu harus berkomentar apa.
    Cuma sebagai pemula,ini sudah bagus kk (komparasi dengan tulisan2 yg sudah berpengalaman).
    ^^b

    BalasHapus
  2. salut ata perjuangan. kalau member stb yang laki bisa ambil bagian kayak rambu vay kadiwanu, kayak positif deck. ketimbang ba hantam di grup stb.

    BalasHapus
  3. inspiratif sekali kak tulisannya :)

    BalasHapus
  4. semoga bagi kita juga,, generasi muda NTT

    BalasHapus
  5. Salut buat Vani, salam dari kami teman2 Sunday School GKS Uma Mapu

    BalasHapus
  6. Salut buat Vany. Salam dari kami teman2 Sunday School GKS Uma Mapu

    BalasHapus

Posting Komentar